Muak Pada Politik Praktis

Saya mendambakan suatu saat semua orang muak pada politik praktis. Tidak percaya lagi pada sistem pemerintahan yang ada, lalu sepanjang hari rebahan saja saat pemilu berlangsung. Politikus berbusa-busa kampanye, bicara panjang-lebar soal perbaikan nasib dan kesejahteraan, tapi tidak ada satu pun rakyat mendengarkan.

Saya mendambakan suatu saat semua orang muak pada politik praktis. Mosi tidak percaya ditunjukkan secara konkret: abstain dari pilres, pilkada, pileg, maupun pilkabe. Politisi berakrobat sana-sini, tapi masyarakat tidak ada yang peduli. Politisi cuma ada buat diri mereka sendiri, sementara bagi masyarakat, yang nyata hanya memenuhi kebutuhan hidup hari ini.

Saya mendambakan suatu saat semua orang muak pada politik praktis. Pemerintah kehilangan harga diri. Oligarki tidak punya arti. Tidak ada yang bisa mereka eksploitasi, sebab di mana-mana orang-orang tetap melanjutkan hidup tanpa menggantungkan takdir pada negara. Bodo amat presiden bilang apa, ada dan tidak ada dia pun hidup begini-begini saja. Maka daripada bikin tambah pusing, mending dicueki.

Saya mendambakan suatu saat semua orang muak pada politik praktis. Kotak suara kosong. Tidak ada yang mau ke bilik suara, karena bagi orang banyak, lebih baik ke TPU ketimbang ke TPS. Sebab ngomong dengan kuburan lebih berguna daripada ngomong pada orang-orang bejat yang di pikiran mereka cuma kekuasaan.

Saya mendambakan suatu saat semua orang muak pada politik praktis. Supaya konsep negara perlu didefinisikan kembali. Sistem pemerintahan perlu dirumuskan ulang. Atau amanat konstitusi yang ada dipastikan dulu sudah dijalankan apa belum. Jangan bilang merdeka kalau yang merdeka cuma parpol dan pemerintah. Jangan bilang bernegara kalau yang merasakan faedah dari bernegara cuma sekelompok orang saja. Itu mah tipu-tipu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *