Merdeka Tanpa Tentara

Di zaman kemerdekaan mestinya tentara sudah tidak ada lagi. Sehingga dana perang bisa difokuskan untuk kesehatan, pendidikan, percintaan, kebudayaan, zakat sosial, atau yang lain-lain.

Lagipula manusia Indonesia itu sudah militan dari sononya. Jadi kalau terjadi perang sewaktu-waktu, tanpa tentara pun manusia Indonesia siap tempur. Apalagi dengan melihat banyaknya pengangguran frustrasi dan putus asa. Mereka bisa lebih nekat dibanding tentara.

Selain itu, dipikir-pikir, daripada memelihara tentara (apalagi tentara yang berpolitik), lebih baik memelihara fakir miskin dan anak terlantar. Oh jelas itu amanat konstitusi, cita-cita Undang-Undang Dasar negara.

Omong-omong soal tentara dan perang, saya jadi teringat kata Emma Goldman. Dia bilang, “Negara yang benar-benar mengehendaki perdamaian tidak akan membuang waktu dan tenaga untuk persiapan perang.” Sebab “perang,” kata beliau dalam kesempatan yang lain, “adalah pembunuhan terorganisir, dan tidak ada yang lain.”

Memang benar juga. Lah iya, kalau tujuan perang adalah perdamaian, itu malah lucu. Bagaimana mungkin orang berdamai dengan cara saling bunuh dan saling menghancurkan? Seperti kata Calgasus: “Mereka menciptakan kehancuran dan kesedihan, lalu menyebut itu sebagai perdamaian.” Aneh.

Maka, sekali lagi saya katakan, di zaman kemerdekaan mestinya tentara sudah tidak ada lagi. Sehingga dana perang bisa digunakan untuk kesehatan, pendidikan, percintaan, kebudayaan, zakat sosial, atau yang lain-lain. Ya setidaknya buat hal lain yang jauh lebih bergunalah.

Dalam pada itu, perang biarlah menjadi urusan setiap pribadi, yakni perang melawan diri sendiri. Hihihi….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *