Bukan Apa, tapi Siapa yang Mengatakan

Dalam banyak hal perlu diterapkan prinsip “dengar apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan”. Tapi dalam hal-hal tertentu perlu berprinsip sebaliknya: “lihat siapa yang mengatakan, bukan apa yang dikatakan”.

Misalnya ada pembicaraan yang bagus mengenai kedaulatan pangan, kesejahteraan buruh, dan keadilan sosial masyarakat, tapi yang bicara adalah politisi partai, buser, atau influencer, ya berarti jangan langsung percaya. Minimal perlu diragukan terlebih dulu. Karena apa? Karena jelas apa yang diomongkan panjang lebar oleh komponen tadi semata-mata untuk mewujudkan kepentingan pribadi saja: entah cari uang, cari jabatan, atau sekadar cari aman.

Jadi harus lengkap, jangan langsung teperdaya oleh apa pun wacana yang diangkat. Mau itu soal kedaulatan pangan, kesejahateraan buruh, ataupun keadilan sosial, selama yang menyirkulasikan ide-ide tadi adalah jenis komponen yang disebut di atas, maka bisa dipastikan syubhat alias kagak danta itu mah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *