PANGGIL AKU: PHENG HWA

Karya Veven Sp Wardhana

SEJARAH telah menyeretku menjadi bunglon: cepat berganti nama begitu berpindah tempat hinggap. Ada saatnya kukenalkan diriku sebagai Pheng Hwa, ada masanya kusebutkan namaku sebagai Effendi Wardhana, sebuah nama sebagaimana tertulis di KTP, atau menurut istilah kami sering disebut sebagai nama pemberian negara. Karena aku dan keluargaku tinggal di kota Kawedanaan, sementara komunitas waniktio[1] tidak begitu banyak, sekalipun orang terbiasa memanggilku Pheng Hwa, atau Ping An jika itu sudah sangat akrab, toh saat ke kantor polsek atau instansi pemerintah aku harus menyebutkan nama pemberian negara itu.

Lama-lama, bukan hanya pada kantor resmi harus kusebutkan nama KTP itu. Pada kawan sekolah lanjutan di kota kabupaten, pada rekan kuliah di Yogya, pada sesama karyawan di perusahaan tempatku bekerja di Jakarta pun nama yang sama dengan yang di KTP itulah yang kuperkenalkan. Lalu, aku pun kemudian jadi terbiasa dengan nama Effendi Wardhana, sementara kalau ada yang memanggilku Pheng Hwa, bahkan dulu terkadang singkek [2] kuping jadi mendadak gatal.

Di kemudian hari, barangkali juga karena aku sudah kian jarang kontak dengan keluarga karena berbagai alasan, kesadaran bahwa aku adalah waniktio menjadi semakin mengabur. Justru istriku-lah, asal Manado, yang kerap disangka kawan-kawan di Jakarta sebagai Tionghoa.

Lalu, ketika perusahaan tempatku bekerja dianggap bermasalah dan kemudian susunan manajerialnya direstrukturisasi, antara lain dengan memasukkan beberapa nama yang diusulkan pihak pemerintah, tanpa harus beralasan aku tak suka kebijakan itu, aku kemudian memilih untuk keluar perusahaan, untuk kemudian memilih mengikuti anjuran istriku untuk juga mencari beasiswa sekolah sebagaimana istriku telah terlebih dulu mendapatkannya untuk memperdalam tentang broadcasting sama-sama di Paris, Perancis.

Di Paris, dalam sebuah pertemuan di resto milik orang Indonesia yang sudah tinggal lama di sana [3] aku ketemu bekas kawan sekolah.

“He, Ping An! Sudah berapa lama kau tinggal di sini?” tanyanya menyergah begitu dia mendapatkan aku dan istriku. Tidak hanya itu. Gus, nama kawanku itu, kemudian bahkan memanggilku dengan sebutan singkek. Sekalipun kupingku mendadak terasa berdengung, toh kurasakan ada nuansa yang berbeda dibandingkan saat dia memanggilku dengan sebutan yang sama belasan tahun yang lampau semasa masih di sekolah di ibukota kabupaten.

Sejak itu kawan-kawan di Paris mulai memanggilku Ping. “Tak soal, Ping. Di negeri ini, tampang kayak kamu justru lebih dihargai dibandingkan aku,” kata Gus beberapa saat menjelang acara kumpul-kumpul itu selesai dan masing-masing hendak meninggalkan resto.

Ucapan Gus tidak salah. Dalam kereta bawah tanah, kalau misal ada penumpang kereta menyapaku, rata-rata pertanyaan mereka adalah “Vous etes Vietnamese? [4]

“Karena mereka interes pada orang Vietnam? Kenapa, para Perancis itu masih juga mengulang-ulang kebebalan bule-bule lainnya, yang sering salah kira terhadap kita sebagai orang Filipina?” sergahku. “Apakah dalam zaman globalisasi dan gombalisasi ini mereka masih juga gemblung menganggap Bali itu ada di luar Indonesia, seperti yang digambarkan banyak wartawan Indonesia dari zaman ke zaman, dari orde ke orde?” sergahku cenderung dalam nada sengit ketimbang sekadar ingin tahu.

Gus hanya terbahak. Sekalipun hanya lewat telepon, suara Gus terasa sangat keras dan membahana. “Itu hanya salah satu, Ping. Masih banyak yang tak akan kamu pahami,” sambungnya tanpa merinci kalimatnya.

Gus benar, masih ada yang tersisa sebagai rahasia yang tidak kupahami. Juga ketika aku dan istriku belanja di Tang Frere [5] kawasan Porte de Choisy, semua Cina yang kutemukan di wilayah Paris distrik 13 ini tak satu pun yang bicara dalam bahasa Mandarin. Bahkan sesama Cina pun mereka ber-parlez Francaise.[6]

“Ni shi zhong Guoren, wei shen me bu hui shuo Huayu?”[7] tanyaku heran.
Mereka hanya angkat bahu dan alis, sambil menatap tajam padaku lewat ekspresi yang tak kalah penuh rasa heran.

“Mais, Vous etes Chinois, n’est pas? Pourqoi Vous ne parlez pas, Chinois?” kuulangi lagi pertanyaanku dalam Perancis.

“Eh, donc?” [8] balas mereka.

Panggil Aku: Pheng Hwa.

“Eh, donc? Na shi wei shen me ne?” [9] sergahku membalik pertanyaan mereka, dalam bahasa campur-baur.

“Asalmu dari mana sih? Kamu pakai akte kelahiran siapa?” tanya salah seorang dari mereka kemudian.

Pakai akte kelahiran siapa? Istrikulah yang kemudian menerangkan. Istriku bilang, dia banyak mendapatkan informasi dari Madame Goldmann [10]. Katanya, sensus penduduk di pecinan tak pernah meninggalkan catatan yang menyatakan adanya jumlah penduduk yang berkurang, kendati ada warga yang meninggal dunia. Dulu, pernah sebuah stasiun televisi menayangkan investigasi mereka perihal misteri jumlah penduduk itu. Toh, siaran yang diniatkan sebagai serial panjang itu dihentikan di tengah jalan, tanpa ada sedikit pun penjelasan.

“Akte milik yang mati itu namanya dipakai imigran dari Cina yang eksodus karena revolusi kebudayaan,” kata istriku. Diam-diam aku memuji kelincahan istriku dalam mendapat dan mengumpulkan informasi.

Salah satu kelihaian istriku lainnya, dengan cepat pula dia mampu membedakan taste antara riz blanc Vietnam dari riz blanc [11] Thailand, yang berasnya dua-duanya bisa dibeli di pecinan atau di pasar swalayan dekat gereja Orly. Tapi, ketajaman lidah kuliner itu bukan diperolehnya dari Nyonya Goldmann. Entah dari siapa. Yang jelas, sesekali dia menyebut-nyebut seorang kawan studinya yang tinggal di sebuah apartemen. di Orly. Kawannya yang juga asal Indonesia ini, menurut penilaian istriku, agak enggan kumpul-kumpul dengan sesama warga Indonesia lainnya.

“Dia ipar ekonom Indonesia yang kerja untuk konglomerat,” komentar istriku.

***

PHENG Hwa, memang namaku. Namun, saat aku bertemu dengan ipar ekonom yang disebut-sebut istriku itu, yang kusebutkan justru nama pemberian negara itu. Waktu itu, ipar itu sedang mengadakan nama acara syukuran atas kelahiran anak pertamanya, yang sudah sangat lama mereka dambakan kelahirannya. Dalam acara itu, tetangga kiri kanan di apartemen di selatan Paris itu juga diundang. Jadinya, ada juga satu-dua orang Perancis, Aljazair, Maroko, dan Italia.

“Effendi nama Anda? Anda Muslim? Anda dari Malaya?” tanya seorang Perancis dan seorang Italia nyaris bersamaan.

“Saya dari Indonesia. Malaya, kalau yang Anda maksud adalah Malaysia, itu dekat sekali dengan Indonesia,” aku mencoba menerangkan dengan penuh kesabaran.

Tamu lain, orang Aljazair, kemudian bicara panjang lebar mengenai revolusi Iran. Sementara warga asal Maroko kemudian menghadiahi kami sebotol sambal bikinannya. Dari situ aku dan istriku kemudian bisa membedakan rasa antara sambal Maroko dibandingkan sambal Aljazair.

***

DI negeri asing ini, dengan nama Pheng Hwa atau Effendi Wardhana, aku tak lagi merasa asing atas diriku sendiri sebagaimana yang selama ini diam-diam menyelinap, dan mengendap dalam benak.

Aku tak lagi menggubris aku akan dipanggil dengan nama apa, toh, aku sudah tidak lagi merasa ngumpet—entah dari apa—jika harus menyebutkan nama pemberian negara itu. Juga aku tak perlu merasa khawatir—entah karena apa—jika kemudian ada yang memanggilku pakai nama waniktio itu. Aku merasa baru terlahir kembali.
Dengan perasaan plong macam itulah aku kini pulang kembali ke Tanah Air, ke Jakarta, menyusul istriku yang sudah pulang lebih dulu enam bulan sebelumnya.

Saat mendarat di Cengkareng, hari sudah hampir pagi. Menjelang melewati meja pemeriksaan paspor, aku mencium gelagat aneh. Entah apa. Petugas imigrasi yang memeriksa paspor pun perlu menatapku dengan tajam, sambil bercampur rasa penasaran. Entah pula karena apa. Sambil menunggu bagasi, aku mencari telepon umum dan menelepon ke rumah, mengabarkan pada istriku bahwa aku sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Di seberang tak ada yang mengangkat telepon. Kuulang lagi menelepon rumah dengan nomor satunya. Tetap saja tak ada yang mengangkat di seberang sana.
Sabuk bagasi terus berputar dan satu persatu tas mulai diturunkan. Kucoba ulang menelepon. Hampa.

Setelah kuambil beberapa tasku dan kutumpuk di atas troli, aku beranjak menuju jalan keluar. “Ada keluarga yang menjemput?” tanya petugas di pintu keluar sambil mengambil tiket bagasiku. Aku tak sempat menjawabnya karena mataku segera kuedarkan ke deretan para penjemput di serambi itu. Sama sekali aku tak menemukan istriku atau keluarga yang lain. Yang kulihat adalah banyaknya orang berdesak-desak tidur di sembarang tempat. Ah, kenapa suasana bandara ini malah seperti stasiun kereta api di Senen atau Gambir?

Kucoba lagi menelepon ke rumah. Yang terdengar cuma nada sambung, tapi tetap juga di seberang sana tak ada yang mengangkatnva.

Berulang-idang kucoba lagi menelepon lewat telepon umum di sebelahnya, di sebelahnya lagi, di sebelahnya lagi. Tetap tak ada yang mengangkat.

Tak ada pula sopir taksi yang menawarkan jasanya. Tak ada mobil lalu-lalang di jalanan seberang. Aku makin merasakan bahwa aku sedang tidak berada di wilayah bandara. Ternyata, bukan hanya aku yang gagal mengontak telepon ke rumah. Para penelepon lainnya juga mengeluhkan hal yang sama: jika tidak ada yang mengangkat, justru telepon di seberang sedang on-line.

Diam-diam aku teringat film The Philadelphia Experiment [12] yang pernah kutonton entah berapa tahun lewat. Buru-buru kucari seorang petugas.

“Tahun berapa sekarang ini?” tanyaku pada seorang petugas. Tampaknya, pertanyaanku dianggap ganjil. Tahun berapa?

Pastilah petugas itu menganggap aku terguncang oleh jetlag yang sangat luar biasa.

“Sekarang tanggal 15 Mei,” jawabnya menegas-negaskan, seolah sekalian meralat pertanyaanku.

“Ya, tapi tahun berapa?” sergahku. Dan bukan hanya petugas itu yang kini menunjukkan raut wajah penuh rasa heran. Orang-orang di sekeliling yang kebetulan mendengar pertanyaanku yang tampaknya cukup keras itu bahkan, menampilkan ekspresi yang menuduh bahwa aku adalah orang sinting.

“Tahun berapa sekarang?” tanyaku pada orang di sampingku. Raut muka yang kutanya itu mengkerut. Aku tafsirkan dia sedang bertanya mengenai diriku. “Panggil saja nama saya: Pheng Hwa. Saya benar-benar tidak bertanya soal jam, hari, atau tanggal. Tapi, tahun! Tahun berapi sekarang?”

(Porte de Choisy, September 1995; Utan Kayu, September 1998)

——————————————————————————

[1] Waniktio, kependekan dari warga negara Indonesia keturunan Tionghoa. Istilah ini antara lain ada dalam buku Pramoedya Ananta Toer, Hoa Kiau di Indonesia, PT Bintang Press, Jakarta, 1960 yang diterbitkan ulang oleh Garba Ludaya, Jakarta, 1998.

[2] Singkek, sebutan untuk Tionghoa totok.

[3] Ada beberapa resto milik orang-orang Indonesia yang “terbuang”, karena alasan politik. Salah satu diantaranya terletak di Rue Vaugirard sebuah jalan terpanjang di Paris.

[4] Bahasa Perancis: “Anda dari Vietnam?”

[5] Tang Frere, nama pasar swalayan terbesar di Eropa (Barat).

[6] Bercakap dalam bahasa Perancis.

[7] Bahasa mandarin: “Bukankah Anda dari Cina? Kenapa Anda tidak ngomong dalam bahasa Cina?”

[8] Artinya sama dengan bahasa Inggris: “So What?”

[9] “Lho kok’memangnya kenapa sih?”

[10] Madame: Nyonya Lucien Goldman, asal Hungaria, “lari” ke Perancis dan kemudian menjadi ilmuwan strukturalisme-genetik, menikah dua kali.

[11] Riz blanc: nasi putih.

[12] Film produksi 1984 ini berkisah perihal seorang tokoh dalam Piala Dunia ini yang terlontar menembus ruang waktu dan terdampar ke tahun 1984; sehingga ketika dia menelpon ke rumah yang menerima adalah kekasihnya yang sudah tua.

[13] Bahasa Perancis: “Anda dari Vietnam?”

[14] Waniktio, kependekan dari warga negara Indonesia keturunan Tionghoa. Istilah ini antara lain ada dalam buku Pramoedya Ananta Toer, Hoa Kiau di Indonesia, PT. Bintang Press, Jakarta, 1960 yang diterbitkan ulang oleh Garba Ludaya, Jakarta, 1998.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *